Langsung ke konten utama

Ketika Masyarakat Semakin Akrab dengan Diabetes dan Sindrom Metabolik

Waktu jaman kuliah, topik yang sangat sering dibahas di ruang kelas ialah sindrom metabolik. Mengapa topik ini selalu diulang-ulang? Alasannya tentu bukan karena para dosen kekurangan bahan, yaelah plis dah wkwk, melainkan karena sindrom metabolik ini perlahan tapi pasti menjadi tren di tengah masyakat, tanpa kita sadari.

Nah, diabetes merupakan salah satu penyakit “turunan” dari sindrom metabolik tadi. Jumlah penyandang diabetes di Indonesia menduduki peringkat berapa coba? Yess, ke tujuh di dunia! Jelas ini bukanlah prestasi yang menggembirakan. Terlebih kita dihadapkan pada kenyataan bahwa kebanyakan penderita tidak menyadari adanya gejala diabetes yang ada pada dirinya.



So, how to cope with diabetes and metabolic syndrome?

Jika diibaratkan sebuah pasukan tempur, pengetahuan berada di garda terdepan pencegahan dan penanggulangan penyakit. Fundamental sekali perannya. Terang saja, tanpa pengetahuan yang memadai, mustahil orang melakukan action yang tepat. Dari cerita-cerita yang kerap saya dengar, ternyata pengetahuan gizi dan keterampilan berkaitan dengan meal plan yang dimiliki pasien/keluarga pasien diabetes dan sindrom metabolik masih sangat minim. Padahal like we know together (seperti kita ketahui bersama, terjemahan bebasss wkwk), pengaturan pola makan dan gaya hidup adalah kunci utama penanggulangan penyakit degeneratif.

Terus gimana dong biar pengetahuan masyarakat terlebih pasien diabetes dan sindrom metabolik semakin baik? Dikasih kuliah ilmu gizi pan ga mungkin yakk, butuh berapa SKS tuh? Hihihi. Soal nutrition education ini saya pikir lumayan menjadi tantangan sih.

Nah, kemarin malam saya ketemu artikel menarik yang bisa dijadikan rujukan membuat model nurition education yang baik dan tepat sasaran. Sebuah penelitian terkontrol yang dilakukan di satu klinik endokrinologi di Washiton DC, menunjukkan bahwa edukasi gizi berpengaruh positif terhadap perkembangan pasien DM yang dibuktikan melalui uji laboratorium.

Cara edukasinya bagaimana? Ternyata sederhana sekali, para peneliti mengubah ruang tunggu pasien menjadi kelas edukasi. Isn’t it cool? Daripada menunggu kosong dan kebosanan, akan lebih bermanfaat jika pasien dibekali ilmu tentang eating plan dan hal-hal yang berkaitan.




Saya tidak mencari tahu lebih lanjut bagaimana teknis pelaksanaan edukasi gizi dalam penelitian itu, apakah seorang suhu dihadirkan di tengah-tengah ruang tunggu apa gimana, itu tugas kalianlah yang lagi kuliah dan bekerja di rumah sakit untuk mencari jurnal lengkapnya, hahaha.

Tetapi saya jadi memikirkan satu hal. Di ruang tunggu rumah sakit dan klinik kan biasanya ada televisi ya? Berdasarkan pengalaman saya pribadi, TV di ruang tunggu rumah sakit biasanya menayangkan sinetron atau paling banter iklan layanan rumah sakit itu sendiri. Nah, daripada si TV itu menyuguhi pasien dengan acara ga jelas dan nirfaedah, kenapa tidak diselingi dengan edukasi gizi? Saya rasa ini akan jauh lebih bermanfaat.

Lagipula, mengadakan edukasi gizi model begini rasanya juga tidak sulit-sulit amat deh. Konten gizi kan banyak, tinggal cari di Youtube dan dikurasi secara teliti. Abis itu, tayangkan. So simple! Kalo dibayangkan enteng betul wkwk... Namun yang menjadi pertanyaan kemudian…mau ga public health care memikirkan dan mengadakan edukasi gizi? Nah, itu peer-nya giisss...




Sebagai penutup, saya ingin mengutip sebuah kalimat bijaq:

“Satu demi satu langkah kecil yang kita ambil akan membawa perubahan berarti. Setidaknya posisimu berpindah, ituh!”

Mengganti tayangan TV dengan konten gizi di waiting room mungkin terdengar remeh, but who knows, justru inilah yang mendorong pasien untuk memperbaiki pola hidupnya.

Sekian dan terima kasih sudah mampir… ❤



Komentar

  1. Inspirasi sekali 👍 suka sekali juga sama pesan dari kalimat bijaqnya 😁 in fact, 'edukasi gz' is one of the challenge, sensasinya betul2 berasa krn ketemu langsung sama tipe2 org berbezzza, tapi memang lebih efektif klo ada media nya ketimbang diskusi2 biasa. Kayak waktu event gernus, kayaknya cucok di'

    BalasHapus
    Balasan
    1. yes, bisalah diuji coba di RS Ananda.... banyakji uanna wkwk

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Main 'Batu Lima' dan Rahasia Selamat dari Hantu

Anak-anak jaman sekarang mainnya kalo bukan gadget yaa ke mall. Begitu-begitu saja. Padahal kami dulu punya banyak permainan seru yang biasa dimainkan pas istirahat kelas dan sepulang sekolah. Kadang, jika kami agak bandel, hahah, permainan itu dimainkan ketika jam belajar, ketika Bapak dan Ibu Guru yang terhormat sedang keluar sebentar. 

Kalau diingat-ingat, betapa menyenangkannya masa kecil itu... Di kampungku, ada permainan yang namanya: kabula (mirip engklek yang di daerah Jawa), hendip, boi 100, kai, batu lima, kelereng, wayang, monopoli, dan banyak lagi. 




*****
Nah, kali ini saya mau cerita sedikit tentang batu lima, salah satu permainan yang agak jarang saya melibatkan diri. Why? Sederhana saja, karena bisa dipastikan, saya akan selalu kalah, sementara hukumannya bagiku agak mengerikan.
Batu lima adalah salah satu permainan tradisional yang populer di kampung saya (bdw, kampung saya namanya Lakudo, ada di bagian tenggara Sulawesi sana). Sejauh yang saya ingat, pemain batu lima terd…

1 Cara Jitu Memilih Calon Pasangan Hidup

Sengaja saya menulis judul seperti itu biar kelihatan bombastis macam artikel-artikel mainstream bacaan favorit kaum milenial. Dan kenapa cuma 1 cara, bukan 7 misanya? Ya, karena memang cuma 1 ini yang mahapenting dan patut kamu tanamkan dalam benakmu.
Saya awali dengan dua buah pertanyaan: Umur kamu berapa? Punya pacar apa tidak? Andekata umur kamu sepantaran saya yakni 20 tahun lewat sedikit (belagak mudaa, hahha), topik tentang pernikahan akan selalu menghantui hari-harimu. Temlen fesbuk dan instagram niscaya dipenuhi foto-foto teman seangkatan kuliah dulu yang sudah pada merit. Dan yang bikin nyesseek adalah kamu J O M B L O. Sudah begitu, gak ada tanda-tanda hilal (calon pasangan) bakal meramaikan hidupmu yang selama ini penuh drama gak penting. *fiuhhh, nyeka aer mata pake kanebo*
Oke, cukup! Cukup Roma… jangan terlalu baper. Ingat saja sebuah petuah klasik bahwa jodohmu ada. Beliau akan datang di waktu yang tepat. Selama teman-teman partner in crime-mu belum menikah juga, tidak…

Legenda Sangkuriang (Berkencan Sambil Cari Kutu)

Cerita ini dikisahkan oleh temanku, Mbak Tuts, waktu lagi nongkrong di depan indekos. Mbak Tuts itu ketika masih kecil adalah pecinta dongeng dan ia membagi sedikit “ingatan”nya tentang Legenda Sangkuriang.
Suatu hari ketika Dayang Sumbi (ibunya Sangkuriang) masih lajang sedang menjahit, tiba-tiba jarumnya jatuh ke kolong rumahnya. Dayang Sumbi pun berjanji jika ada seorang lelaki yang mau mengambilkan jarum itu untuknya, lelaki itu akan dijadikan suami (bdw, menurutku ini ikrar yang aneh. Kenapa dia tidak turun ambil sendiri? Kan jatuhnya cuma di kolong... Haeuh, sedentary banget). Lalu, ternyata yang mengambilkan jarum itu adalah seekor anjing bernama Lumang. Singkat kata singkat cerita, mereka pun menikah. (Huh, ini lebih aneh lagi. Bagaimana caranya anjing ngambil jarum? Terus, dalam perjanjian tadi kan yang akan dijadikan suami adalah lelaki?!)
Dari pernikahan Dayang Sumbi dengan Lumang lahirlah Sangkuriang. Suatu hari Sangkuriang dan si Lumang (ayahnya) disuruh pergi berburu rusa.…