Langsung ke konten utama

MENGOPTIMALKAN LAYANAN KONSELING GIZI POSYANDU DALAM UPAYA PENINGKATAN KESEHATAN IBU DAN ANAK

Jika kita bertanya kepada masyarakat awam apa itu posyandu, kebanyakan orang akan menjawab bahwa posyandu adalah tempat untuk menimbang bayi dan balita, atau tempat memperoleh imunisasi. Padahal, fungsi posyandu tidak hanya sebatas timbang-menimbang, tetapi lebih dari itu posyandu merupakan suatu wadah yang memberdayakan masyarakat melalui berbagai kegiatan dalam upaya meningkatkan kesehatan ibu dan anak. Menurut Depkes, tujuan utama diadakan posyandu ialah untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Namun bagaimana pun, persepsi masyarakat terhadap posyandu selama ini tidak bisa serta-merta disalahkan karena yang terjadi di lapangan memang demikian adanya, peran posyandu belum optimal.
pict: www.liputan6.com

Selama ini, yang terjadi di sebagian besar posyandu adalah setelah penimbangan bayi dilakukan, kemudian hasilnya dicatat di buku KMS (Kartu Menuju Sehat). Sesudah itu, tidak ada tindakan lebih lanjut kepada para ibu tentang bagaimana mengatasi berat badan anak yang menurun atau statis, misalnya. Kenyataan ini menunjukkan bahwa kegiatan konseling di posyandu memang belum dipandang penting. Padahal kalau kita mau serius “menggarap” konseling gizi di lingkungan posyandu, masalah gizi pada ibu dan anak bisa berkurang secara nyata karena melalui konseling kita bisa memahami akar masalah.

Konseling gizi berbeda dengan penyuluhan karena biasanya dalam penyuluhan hanya terjadi proses transfer informasi tanpa melibatkan aspek psikologis, sedangkan dalam kegiatan konseling aspek psikologis klien harus diperhatikan untuk mempengaruhi perubahan sikap dan perilaku. Namun perlu dicatat, tugas seorang konselor gizi bukan untuk memaksakan suatu sikap/perilaku tertentu, melainkan membantu klien untuk meningkatkan kesadarannya terhadap masalah gizi, memahami masalah, kemudian menuntun mereka untuk mengambil sikap dan keputusan.

Konseling gizi diperlukan sebab setiap ibu memiliki persepsi berbeda terhadap suatu keadaan. Selain itu, mereka mungkin menghadapi kendala yang tidak sama antara satu dan lainnya. Sebagai contoh, seorang ibu tahu bahwa anaknya menderita gizi kurang sehingga anak tersebut harus mendapatkan tambahan intake. Tetapi masalahnya, si anak sangat sulit jika disuruh makan, anak tersebut juga lebih sibuk bermain dan memang nafsu makannya kurang. Jika begitu, apa yang harus dilakukan ibu? Dalam kasus berbeda, seorang ibu yang anaknya menderita kurang gizi terkendala masalah pendapatan keluarga yang rendah sehingga kecukupan gizi anaknya sulit dipenuhi. Maka bagaimana pula seharusnya ibu tersebut bersikap? Dikarenakan adanya perbedaan kondisi inilah sehingga diperlukan konselor gizi. Dengan demikian, dapat diperoleh solusi yang tepat dan sesuai berdasarkan kebutuhan masing-masing klien (ibu).

Makassar, 25 September 2013

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mah, Apa Hukumnya Minum Air Rebusan Telur?

Edisi #mamahdedeh, gaisss... Tagline kita adalah apa pun masalahnya langsung beres! Mari bayangkan skenario seperti ini... Di sebuah acara pengajian, puluhan wanita mengenakan gamis dan kerudung duduk melingkar merubungi seorang perempuan lebih separuh baya yang biasa disapa MAMAH. Lalu salah satu hadirin berdiri sembari memegang mic , hendak mengajukan sebuah pertanyaan mahapenting kepada Mamah. "Mah, curhat dooong!" "Iya dooong!" "Nama saya Haji Sul..." Belum selesai Haji Sul titik titik menyebutkan namanya secara paripurna, Mamah langsung menyemprot garang, "Hei heii, jangan sombong udah haji! Emang kalo abis solat kita dipanggil solat ape gitu?! Lanjut, nyebut nama aja biar sederhana!” Sehabis diomelin begitu, dengan wajah tersipu malu HAJI SUL titik titik kembali memperkenalkan jati dirinya. "Nama saya Sulastri Ayu, Mah." Ouu, ternyata Sulastri gaiiss... Alhamdulillah, namanya bukan Sulaiman. *pan ceweek dia* #krikrik #...

1 Cara Jitu Memilih Calon Pasangan Hidup

Sengaja saya menulis judul seperti itu biar kelihatan bombastis macam artikel-artikel mainstream bacaan favorit kaum milenial. Dan kenapa cuma 1 cara, bukan 7 misanya? Ya, karena memang cuma 1 ini yang mahapenting dan patut kamu tanamkan dalam benakmu. Saya awali dengan dua buah pertanyaan: Umur kamu berapa? Punya pacar apa tidak? Andekata umur kamu sepantaran saya yakni 20 tahun lewat sedikit (belagak mudaa, hahha), topik tentang pernikahan akan selalu menghantui hari-harimu. Temlen fesbuk dan instagram niscaya dipenuhi foto-foto teman seangkatan kuliah dulu yang sudah pada merit. Dan yang bikin nyesseek adalah kamu J O M B L O. Sudah begitu, gak ada tanda-tanda hilal (calon pasangan) bakal meramaikan hidupmu yang selama ini penuh drama gak penting. *fiuhhh, nyeka aer mata pake kanebo* Oke, cukup! Cukup Roma… jangan terlalu baper. Ingat saja sebuah petuah klasik bahwa jodohmu ada. Beliau akan datang di waktu yang tepat. Selama teman-teman partner in crime -mu belum menika...

Makan Siang Bersama a la Jepang

Haihaiii... Welcome back !  😋😍 Kemarenan saya janji mau cerita tentang anak-anak Jepang dan budaya membaca yes, sampe sekarang belum terpenuhi karena saya belum dapat ilham untuk meneruskan outline tulisan yang ada, hahhah. Baiklah, sekarang izinkan saya cerita hal yang lain dulu, masih menyoal anak-anak Jepang, based on my reading last night, and for more info yah silakan googling sendiri.  😁😁 Kekalahan Jepang dari Amerika pada perang dunia II, membuat Negeri Matahari Terbit ini menyadari bahwa diperlukan usaha yang sungguh-sungguh untuk menyamai kemajuan bangsa Barat. Ternyata, berakhirnya perang menyadarkan pemerintah Jepang untuk memprioritaskan dua sektor utama dalam pembangunan, yaitu sektor: PENDIDIKAN DAN KESEHATAN. Lalu bagaimana upaya pemerintah agar fokus pada kedua sektor ini berjalan beriringan? Salah satunya ialah menekankan pentingnya budaya makan sehat sebagai bagian dari peningkatan derajat kesehatan. Jangan salah, Jepang berinve...